Author: AnNajiyyah
    24 - July - 2008

    Hilyah Thalibil ‘Ilmi

    Oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.

    Durasi: 97:27

    6. QANA’AH DAN ZUHUD (lanjutan)

    Diriwayatkan dari imam asy-Syafi’i bahwasanya beliau berkata: “Seandainya ada seorang yang berwasiat agar memberikan sesuatu kepada orang yang paling berakal, maka harus diberikan kepada orang-orang yang zuhud.”

    Dari Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (murid Imam Abu Hanifah), beliau pernah ditanya: ”Mengapa Anda tidak menulis kitab mengenai masalah zuhud?” Beliau menjawab: “Saya telah menulis kitab tentang hukum jual beli.” Maksudnya bahwa orang yang zuhud adalah orang yang menjauhi segala perkara yang syubhat dan makruh pada saat transaksi lainnya, begitu pula dalam pekerjaan apapun.

    Maka hendaklah engkau bersikap seimbang dalam penghidupanmu dengan menjaga diri dn keluarga dari segala perkara yang membawa pada kehinaan dan kerendahan diri.Janganlah mengharapkan balasan harta dari ilmu yang kita miliki yang akan menyebabkan hilangnya kewibawaan diri dan ilmu yang kita miliki. Dan juga jangan terlalu berlebih-lebihan bila dikaruniai kelebihan harta yang menyebabkan orang lain akan iri dan mubadzir. Rasulullah Salallahu’alaihi wassalm bersabda yang artinya:

    “Sesungguhnya bagi setiap umat ada fitnahnya dan fitnah umatku adalah harta benda.” (HR.Tirmidzi)

    Ibnul Qayim berkata dalam kitab ‘Idatush Shobirin ketika menjawab perselisihan diantara ulama tentang pertanyaan “Siapakah yang lebih mulia diantara orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar.” Beliau menjawab yang paling roji’ dalam masalah ini adalah siapa yang paling bertaqwa diantara keduanya adalah yang lebih mulia.

    Dalam pembahasan masalah “ridho billahi robban” yang artinya ridho kepada Allah sebagai Rab, yang merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari sabar. Yakni dengan menempatkan diri selalu merasa cukup,puas dengan apa yang Allah takdirkan dan menganggap itulah yang terbaik bagi kita.Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya:

    “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghaabun: 11).

    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami,niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jaln Kami.” (Al-’Ankabut: 69)

    Ibnul Qayim menjelaskan ayat diatas (Al-’Ankabut:69) bahwa Allah menggandengkan hidayah dari-Nya dengan kesungguhan manusia, maka orang yang paling sempurna mendapatkan hidayah dari Allah adalah orang yang paling besar pula kesungguhan dan perjuangan dalam mengilmui dan mengamalkan agama ini.

    Dulu guru kami Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi (beliau wafat pada tanggal 17/12/1393 H )

    adalah orang yang sangat zuhud pada urusan dunia. Saya menyaksikan bahwa beliau tidak pernah memiliki lembaran uang dalam jumlah besar sampai-sampai beliau tidak bisa mengenali jenis-jenis kepingan uang. Pernah suatu hari beliau berbicara kepadaku: “Saya datang dari negeri Syinqith dengan membawa modal yang jarang dimiliki oleh orang lain yaiu rasa Qana’ah, seandainya saya menginginkan jabatan, saya akan bisa mencapainya, namun saya tidak mementingkan urusan duniaku, saya tidak menjadikan ilmu ini untuk memperoleh kedudukan duniawi.” Semoga Allah mencurahkan kepada beliau keluasan rahmat-Nya. Amiin.

    7.HIASILAH DIRI DENGAN KEINDAHAN ILMU

    Menghiasi diri dengan keindahan ilmuberupa bagusnya budi pekerti, akhlak yang baik dengan selalu bersikap tenang, berwibawa, khusyu, tawadhu’, dan senantiasa bersikap istiqamah secara lahir dan batin, serta tidak melakukan segala yang bisa merusaknya.

    Dari Imam ibnu Sirin beliau berkata: “Dulu para ulam mempelajari budi pekerti sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

    Imam adz-Dzahabi ketika menjelaskan biografi Imam Ahmad bahwa dari sekitar 5000 orang yang menghadiri majlis Imam Ahmad tapi cuma 500 orang yang menulis hadits dari beliau dan sisanya adalah untuk mempelajari praktek ilmu dari beliau. Dan dikisahkan dari biografi Imam ibnu Shirin dari muridnya Wadhah Al-Yasyquri disebutkan bahwa aku pernah melihat Muhammad ibnu Sirin di pasar, dan tidak seorangpun melihat dia , kecuali akan mengingat Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Dan dari biografi Imam Abu Daud bagaimana dari beliau sampai pada guru-guru beliau yang disifati orang yang serupa dengan guru mereka dari sifat, tingkah laku, petunjuk dan penampilannya. Dari Abdullah ibnu Mas’ud yang diserupakan dengan Rasulullah, begitu juga dengan al-Qomah, sampai kepada Imam Ahmad dan Imam Abu Daud.

    Oleh ibnu Abbas dikatakan: “Semua kata sulthon dalam Al-Qur’an artinya hujjah.” Kenapa dikatakan sulthon? Karena memang begitulah sifatnya ilmu, dapat menundukkan orang. Dengan kita mengamalkan ilmu dengan baik, InsyaAllah semua orang juga akan mencintai kita, dan akan mudah menerima dakwah dari kita. Bahkan dalam sabda Rasulullah yang artinya:

    “Barangsiapa yang menapak jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat akan meletakkan sayapnya karena ridha terhadap mereka yang menuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh makhluk Allah yang ada di langit dan yang ada di bumi, sampai ikan-ikan di dalam lautan juga memintakan ampunan buat mereka. Keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang ahli ibadah adalah seumpama bulan pada saat purnama dibandingkan dengan bintang-bintang. Dan orang yang berilmu merupakan pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham kepada mereka, namun mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Imam Abu Daud).

    Dari Raja’ bin Haiwa,beliau berkata kepada seseorang: “Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits, tapi jangan sampaikan hadits dari riwayat orang yang pura-pura mati (malas dalam beragama), juga jangan dari orang yang suka mencela.

    Wallahu a’lam bishshawab.

     
    icon for podpress  Hilyah Thalibil Ilmi (11): Play Now | Play in Popup | Download

    Leave a Reply