Author: AnNajiyyah
    24 - July - 2008

    Hilyah Thalibil ‘Ilmi

    Oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc

    Durasi: 74:41

    7. HIASIALAH DIRI DENGAN KEINDAHAN ILMU

    Dari Imam ibnu Sirin beliau berkata: “Dulu para ulam mempelajari budi pekerti sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

    Dari Raja’ bin Haiwa,beliau berkata kepada seseorang: “Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits, tapi jangan sampaikan hadits dari riwayat orang yang pura-pura mati (malas dalam beribadah), juga jangan dari orang yang suka mencela.”

    Kedua kisah diatas di ceritakan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami’, lalu beliau berkata: “Wajib bagi seorang penuntut ilmu hadits untuk menjauhi hal-hal sebagai berikut: suka bermain-main, berbuat yang sia-sia dan bersikap rendah dalam majlis ilmu seperti tertawa terbahak-bahak, banyak membuat lelucon,suka senantiasa bersenda gurau.Senda gurau itu hanya diperbolehkan kalau dilakukan kadang-kadang dan tidak berlebihan serta tidak keluar dari batasan adab-adab dan sopan santun dalam menuntut ilmu, adapun bercanda yang terus-menerus, mengucapkan ucapan kotor, jorok serta yang bisa menyakitkan hati,semua itu adalah perbuatan tercela. Sebab banyak senda gurau dan tertawa akan menghilangkan kewibawaan dan nilai ilmu seorang penuntut ilmu. (kitab al-Jami’)

    Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani).

    Namun berarti tidak harus kelihatan selalu serius ataupun tegang.Disebutkan Oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ tentang nukilan seorang ulama dalam biografinya Yahya bin Khammad, kata seseorang yang memuji beliau yaitu Muhammad bin Nu’man bin Abdissalam, beliau mengatakan aku tidak melihat orang yang beribadahnya lebih kuat dari Yahya bin Khammad, aku menyangka beliau tidak prnah tertawa. Dikomentari oleh adz-Dzahabi bahwa tertawa yang ringan disertai dengan senyuman,merupakan akhlak yang sesuai dengan Rasulullah. Dan apabila para Syaikh-syaikh yang meninggalkan perbuatan ini ada dua sebab. Pertama akan menjadikan keutamaan kalau meninggalkannya dalam rangka untuk adab, takut kepada Allah dan sedih memikirkan dirinya yang hina. Kedua akan menjadi tercela, bagi orang-orang yang tidak pernah tersenyum sama sekali, dengan tujuan sombong, kebodohan atau sengaja dibuat-buat. Sebagaiamana orang yang terlalu banyak tertawa, dia akan dihinakan. Adapun tersenyum, atau kecerahan pada wajah itu lebih tinggi tingkatannya dibandingkan semua itu. Sebagaiman sabda Rasulullah yang artinya:

    “Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah merupakan suatu sedekah” (HR.Tirmidzi dan Bukhori)

    “Tidak pernah Rasullulah melihatku, kecuali dalam keadaan tersenyum.”(HR.Bukhori Muslim)

    Ada sebuah pepatah: “Barangsiapa yang banyak melakukan sesuatu maka dia akan dikenal dengannya.”(Riwayat ath-Thabrani dalam al-Awsaath:2259, al-Qudha’iy dalam Musnad asy-Syihaab:374, al-Baihaqi dalam Syu”abul Iman:4994,5019, al-Uqailiy dalam adh-Dhu’afaa’:III/316, dan Ibnul Qaisarani dalam tadzkiratul Huffah:IV/1416, dari Umar bin Khattab secara maauquf). Jauhilah segala perusak ilmu ini baik dalam majelis anda maupun dalam setiap pembicaraanmu.Namun sebagian orang-orang dungu menyangka bahwa bersikap longgar dalam hal seperti ini adalah sebuah sikap toleransi.

    Dari Imam al-Ahnaf bin Qais, ia berkata:”Jauhkanlah majlis kita dari menyebut-menyebut wanita dan makanan, saya benci seorang laki-laki yang suka membicarakan kemaluan dan perutnya.”(Siyar A’laamin Nubala’: IV/94 dan Faidlul Qadr: I/537).

    Umar bin al-khaththab berkata: “barangsiapa yang menghiasi diri dengan sesuatu yang tidak ia miliki, maka Allah akan menampakkan keburukannya.”

    8.BERHIASLAH DENGAN MURU’AH (ADAB-ADAB JIWA YANG BAIK)

    Muru’ah adalah melakukan segala yang bisa membuatnya terhormat serta menjauhi desegala yang bisa merendahkan martabatnya.

    Selalu berhias dengan muru’ah serta segala yang bisa membawamu kepada muru’ah dengan selalu berakhlak mulia,berwajah manis saat bertemu, menyebarkan salam, bersabar dalam menghadapi sikap kasar dari orang lain, menjaga wibawa tanpa sombong, ketinggian diri, fanatik terhadap golongan, dan punya semangat tanpa harus seperti orang jahiliyyah.

    Maka hindarilah hal-hal yang dapat merusak muru’ah, baik dalam watak,ucapan, amal perbuatan dan sumber penghidupan yang hina dan ahlak yang jelek lainnya seperti ujub (berbangga diri), riya’, sombong, takabbur, meremehkan orang lain,serta mengunjungi tempat-tempat yang meragukan.

    Wallohu a’lam bishshawab.

     
    icon for podpress  Hilyah Thalibil Ilmi (12): Play Now | Play in Popup | Download

    Leave a Reply