Hilyah Thalibil ‘Ilmi
Oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc
Durasi: 69:54
5. TAWADHU’ DAN TIDAK SOMBONG (lanjutan)
Tentang biografi ‘Amr bin al-Aswad al-’Ansy rahimahullah (wafat pada masa kekhalifahan ‘Abdul malik bin Marwan), di kisahkan oleh Imam adz-Dzahabi yang konon apabila beliau keluar dari masjid pasti menggenggamkan tangan kanan pada tangan kirinya. Tatkala beliau ditanya: “Mengapa berbuat begitu?” Beliau menjawab: “Saya khawatir tangan saya ini akan berbuat kemunafikan.” Saya (adz-Dzahabi) berkata: “Beliau menggenggamnya karena takut akan melenggangkan tangannya tatkala sedang berjalan, karena perbuatan itu termasuk kesombongan.” (dalam Siyar A’laamin Nubalaa’).
Hal sekecil ini sampai dikhawatirkan oleh al-’Ansy rahimahullah, oleh karena itu berhati-hatilah terhadap kesombongan yang mana karena sombong, iri dan dengki merupakan dosa pertama dalam bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A’raaf:11-12 yang artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. “.
Sikap merasa lebih ‘alim daripada gurumu adalah kesombongan. Pengingkaran dan keangkuhanmu pada keutamaan orang yang mengajarkan ilmu kepadamu hanya karena kedudukannya lebih rendah atau umurnya lebih muda daripada engkau, merupakan suatu kesombongan. Dan keteledoranmu tidak mengamalkan ilmu adalah lumpur kesombongan dan tanda terhalangnya ilmu itu darimu.
Dalam sebuah syair: “Ilmu itu musuh bagi pemuda yang sombong.Seperti aliran air juga musuh bagi tempat yang tinggi.”
Maka berpegangteguhlah terhadap ketawadhu’an dan rendah diri serta lawanlah dirimu tatkala muncul benih-benih kesombongan, congkak, suka popularitas, bangga dengan diri sendiri dan lain sebagainya dari berbagai penyakit orang yang berilmu yang akan membinasakannya, menghilangkan kewibawaannya dan memadamkan cahayanya. Maka bersihkanlah diri kita dari hal-hal yang bisa menhalangi ilmu. Dalam sebuah kaidah dikatakan tidak akan terkumpul dua hal yang bertentangan dalam satu tempat, sehingga bila hilangnya penhalang-penghalang ilmu maka ilmu akan masuk pada diri kita dengan mudah. Apabila ilmumu semakin bertambah atau engkau semakin naik pangkat tetaplah konsisten dengan semua itu, niscaya engkau akan mendapatkan kebahagiaan yang agung serta kedudukan yang membuat orang lain iri padamu.
Dari Abdullah bin Imam Bakar bin Abdullah al-Muzani (Imam Bakar Abdullah al-Muzzani adalah imam dan tokoh dalam periwayatan al-Kutub as-Sittah) berkata: “Saya mendengar sseorang sedang membicarakan bapakku, bahwa beliau berdiri di padang ‘Arafah, lalu menangis karena ingat dosanya.” Maka beliau berkata: “seandainya saya tidak berada diantara mereka, niscaya akan kukatakan bahwa mereka telah terampuni dosanya.” Kisah ini diceritakan oleh Imam adz-Dzahabi (dalam A’laamin Nubalaa’),lalu beliau mengomentari: “Begitulah seharusnya seorang hamba , harusnya merendahkan diri dan memerangi kesombongannya.”
Allah mengisahkan dalam Al-Qur’an surat al-A’raaf ayat 175-177 yang artinya:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat lalim.”
Diterangkan oleh Imam Ibnu Kutaibah, kenapa dalam ayat ini diumpamakan seperti anjing? Semua binatang yang lain akan menjulurkan lidahnya hanya dalam kepayahan ataupun haus saja. Tapi anjing dalam semua keadaaan selalu menjulurkan lidahnya. Artinya bila dinasehati dia juga mengerti tentang syari’at dan pernah juga menjalani masa-masa ketakwaan, maka tiada bergunalah nasehat tersebut, dan di diamkan juga akan tetap dalam kesesatannya.
6.QANA’AH (PUAS) DAN ZUHUD
Hendaknya para penuntut ilmu selalu menghiasi diri dengan sikap qana’ah (menerima apa adanya yang diberikan olehAllah Ta’ala) dan zuhud. Para Ulama mengatakan zuhud itu derajatnya lebih tinggi di bandingkan wara’ karena pengertian wara’ adalah meninggalkan apa saja yang bisa membahayakan bagi kehidupan seseorang, sedangkan zuhud adalah meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhiratnya.Jika ada sesuatu yang tidak membahayakan sekaligus tidak ada manfaatnya maka orang yang sekedar wara’ tidak akan menghindarinya, namun orang yang zuhud akan menjauhinya karena dia tidak akan berbuat kecuali yang membawa manfaat bagi kehidupan akhiratnya.
Imam Ahmad menafsirkan tentang sifat zuhud yaitu tidak panjang angan-angan (impian/target) dalam kehidupan dunia.Beliau melanjutkan orang yang zuhud ialah orang yang bila dia berada di pagi hari dia berkata Aku khawatir tidak bisa menjumpai waktu sore.Maka dia segera memanfaatkan waktunya untuk beramal dan beribadah sebaik-baiknya.
Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memegangi kedua pundakku lalu beliau bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau seorang pelancong.” (HR Bukhary dan Ahmad).
Bukan berarti harus miskin dan orang yang kaya tidak bisa menjadi orang yang zuhud. Meskipun dia memiliki harta seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman yang merupakan Nabi, imam orang-orang yang zuhud di zaman itu. Dan para sahabat, para ulama seperti Abdullah bin Mubaroq yang memiliki kekayaan, tapi merupakan orang yang zuhud.
Wallahu a’lam bishshawab

