Aku Harus Penuhi Tuntunan
Untuk Meniti Jalan Itu…!
(bagian ketiga dari trilogi)
Oleh: Ustadz Abdullah Roy, Lc.
Sifat dan rukun jalan Allah subhanahu wa ta’ala yang telah penulis sampaikan, menuntut dari kita beberapa perkara, diantaranya :
1. Larangan berpecah belah
Jalan Allah subhanahu wa ta’ala yang satu menuntut kita supaya bersatu di atas jalan ini setelah jelas kebenaran dan melarang kita menempuh jalan-jalan lain karena hal ini bisa menimbulkan perpecahan dan pertikaian.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengancam orang yang memecahkan diri dari jalan yang lurus dengan siksa yang berat, sebagaimana dalam firmanNya :
(وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ) (آل عمران:105)
Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat (QS. 3:105)
Dan Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita untuk bersatu di atas jalanNya dengan firmanNya :
(وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا) (من سورة آل عمران:103)
Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah subhanahu wa ta’ala, dan janganlah kamu bercerai-berai (QS. 3:103)
Tali Allah subhanahu wa ta’ala adalah Al-Quran sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam hadist Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu :
أَلَا وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنْ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلَالَةٍ
Artinya : Ketahuilah bahwasanya aku telah tinggalkan untuk kalian 2 perkara yang berat, salah satunya adalah Kitabullah ‘azza wa jalla, dia adalah tali Allah subhanahu wa ta’ala, barangsiapa yang mengikutinya maka dia di atas petunjuk, dan barangsiapa meninggalkannya maka dia di atas kesesatan. ( HR. Muslim 12 / 134 no : 4425 )
Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita semua di dalam ayat ini untuk berpegang teguh dengan tali Allah subhanahu wa ta’ala yaitu agama Islam yang tertuang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, dan melarang kita dari perpecahan yang timbul karena perbedaan jalan.
Dan tidaklah jalan ini Allah subhanahu wa ta’ala bentangkan kecuali supaya kita bersatu di atas jalan tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ (الشورى: من الآية13)
Artinya : Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. (QS. 42:13)
Allah subhanahu wa ta’ala juga mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallambukanlah termasuk orang-orang melenceng dan memecahkan diri dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala, akan tetapi beliau dan orang-orang yang mengikuti sunnah beliau merekalah yang berjalan di atas jalan Allah subhanahu wa ta’ala , Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
ِإنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ) (الأنعام:159)
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, bukanlah engkau termasuk mereka sedikitpun. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (QS. 6:159)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
Artinya : Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian 3 perkara, dan membenci atas kalian 3 perkara. Allah meridhai bahwasanya kalian menyembahNya dan janganlah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan supaya kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah, dan janganlah berpecah belah. Dan Allah membenci qiila wa qaala ( ucapan dikatakan dan dia berkata ), banyaknya pertanyaan, dan menghamburkan harta. ( HR. Muslim 9 /109 no : 3236 , dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu )
Tidak diragukan lagi bahwa persatuan di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya membuahkan kekuatan dan kemenangan , sebaliknya perpecahan di atas jalan-jalan berakhir kepada kelemahan dan kekalahan sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
(أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ) (لأنفال:46)
Artinya : Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:46)
2. Larangan membuat bid’ah
Jalan Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna dan menyampaikan kepada tujuan dengan selamat dan singkat menuntut kita untuk tidak membuat bid’ah ( sesuatu yang diada-adakan dalam agama ). Barangsiapa mencari atau membuat ajaran sendiri yang keluar dari ajaran islam, berarti kita menganggap agama ini masih kurang dan menyangka bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam belum menyampaikan risalah secara sempurna.
Berkata Imam Malik :
مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ الِإسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِسَالَةَ لِأَنَّ الله َيَقُوْلُ : (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً )(المائدة: من الآية3) ، فَمَا لَم يكن يومئذ دِيْنًا لاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا.
Artinya : Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam islam sebuah bid’ah, ( dan ) menganggapnya hasanah ( baik ), maka sungguh dia telah menyangka bahwasanya Muhammad telah mengkhianati risalah, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman :
(الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً (المائدة: من الآية3 )
oleh karenanya sesuatu yang yang saat itu bukan termasuk agama maka pada hari inipun bukan termasuk agama. (Al-I’tisham karangan Asy-Syathiby 1 / 62 ).
Demikian pula kesempurnaan jalan ini mengharuskan umatnya untuk tidak beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala kecuali dengan ibadah yang ada dalilnya. Semua amalan yang tidak ada dasarnya yang shahih di dalam agama Islam, bagaimanapun besar amalan tersebut dan banyak orang yang mengamalkannya maka akan ditolak. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya : Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak. ( HR. Muslim 9 / 119 no : 3243 )
Tentunya ini adalah kerugian yang besar, bahkan tidak ada yang lebih rugi dari seseorang yang beramal dengan susah payah kemudian tertolak amalannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
(قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً ، الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً) (الكهف: 103 – 10)
Artinya : Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya” , yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. 18: 103-104)
Kita di dalam kehidupan sehari-hari saja, kalau mau melamar sekolah atau pekerjaan tentunya kita berusaha supaya bisa memenuhi syarat-syarat penerimaan. Kita tanyakan terlebih dahulu : Umur minimal berapa, ijazah yang dibutuhkan apa, apa yang diujikan, dan syarat-syarat yang lain. Kita berusaha memenuhi semua itu supaya diterima. Tentunya sebuah kelalaian kalau seseorang bersemangat mendaftar dan ingin diterima, tapi tidak mau mencari info tentang syarat-syarat penerimaan, atau tahu tentang syarat-syaratnya tapi tidak mau memenuhinya.
3. Mengembalikan perkara kepada 3 rukun Ash-Shirathal Mustaqim ketika terjadi perselisihan
Perselisihan dan perpecahan merupakan sunnatullah yang Allah subhanahu wa ta’ala jalankan dalam kehidupan manusia. Dan dengan rahmatNya, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan obat atau jalan keluar ketika terjadi perselisihan. Jalan keluar tersebut adalah dengan mengembalikan permasalahan tersebut kepada 3 rukun Ash-Shirathal Mustaqim, yaitu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para salaf. Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan 3 rukun di atas maka itulah pendapat yang benar dan orang yang berpegang dengannya dialah yang berada di atas jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang pendapatnya tidak sesuai dengan 3 rukun di atas, maka kewajiban dia kembali kepada kebenaran setelah jelas baginya kebenaran tersebut. Dengan demikian akan selesai permasalahan dan berkurang perpecahan.
Diantara dalil perkataan di atas :
a. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ) (الشورى:10(
Artinya : Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Rabbku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (QS. 42:10)
b. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :
فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
Artinya : Maka sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku diantara kalian, akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Al-Khulafa Al-Mahdiyyin Ar-Rasyidin, berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah dengan gigi gerahammu. ( HR. Abu Dawud 12 / 211 no : 3991, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany )
Ayat dan hadist di atas menunjukkan bahwa jalan keluar terbaik ketika terjadi perselisihan adalah dengan mengembalikan perkara tersebut kepada Allah subhanahu wa ta’ala yaitu Al-Qur’an dan kepada RasulNya yaitu As-Sunnah, dan hal ini merupakan bukti keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً) (النساء:59(
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)
Dan perlu diingat sekali lagi bahwa berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah berpegang teguh dengan lafadz dan pemahamannya. Oleh karena itu ketika berselisih dan mau mengembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka juga harus kembali kepada pemahaman para salaf yang shaleh, bagaimana mereka memahaminya, bagaimana mereka mengamalkannya ? Kalau tidak demikian maka perselisihan tidak akan bisa diselesaikan, karena masing-masing memiliki dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah akan tetapi terkadang salah di dalam memahaminya.
Oleh karena itu, Ibnu Qudamah di dalam Lum’atul I’tiqad ( hal : 51 ) membawakan sebuah atsar yang menunjukkan pentingnya kita kembali kepada pemahaman sahabat ketika terjadi perselisihan. Beliau berkata :
وقال محمد بن عبد الرحمن الأدرمي لرجل تكلم ببدعة ودعا الناس إليها : هل علمها رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر وعثمان وعلي أو لم يعلموها ؟ قال : لم يعلموها قال : فشيء لم يعلمه هؤلاء أعلمته أنت ؟ قال رجل : فإني أقول : قد علموها قال : أفوسعهم أن لا يتكلموا به ولا يدعوا الناس إليه أم لم يسعهم ؟ قال : بلى وسعهم ، قال : فشيء وسع رسول الله صلى الله عليه وسلم وخلفاؤه لا يسعك أنت ؟ فانقطع الرجل فقال الخليفة – وكان حاضرا – : لا وسع الله على من لم يسعه ما وسعهم
Artinya : Dan berkata Muhammad bin Abdurrahman Al-Adramy kepada seorang laki-laki yang berbicara dengan sebuah bid’ah dan menyeru manusia kepadanya : ” Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakr, Umar, ‘Ustman dan ‘Aly mengetahui bid’ah ini atau mereka tidak mengetahuinya ? ”
Laki-laki itu berkata : ” Mereka tidak tahu.” Beliau berkata : ” Apakah sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka, kemudian engkau mengetahuinya ? ”
Laki-laki itu berkata : ” Kalau begitu saya katakan : Mereka telah mengetahuinya. ”
Beliau bertanya : ” ( Kalau mereka mengetahuinya ) apakah mereka berbicara dengan bid’ah tersebut dan menyeru manusia kepadanya atau tidak demikian ? ”
Laki-laki itu menjawab : ” Tidak, bahkan mereka tidak berbicara dan tidak menyeru manusia kepadanya. ”
Beliau berkata : ” Kalau Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Khulafa’ beliau tahu kemudian mereka tidak berbicara dengan ( bid’ah tersebut ) dan tidak mengajak manusia kepadanya, kenapa engkau berbicara dengannya dan mengajak manusia kepadanya ? ”
Maka terdiamlah laki-laki tersebut, dan berkata sang Khalifah :” Semoga Allah subhanahu wa ta’ala tidak meluaskan atas orang yang tidak meluaskan dirinya apa yang meluaskan mereka ( Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat ). ” ( Lihat riwayat-riwayat yang serupa dengan kisah ini secara lengkap di Siyar A’lamin Nubala’ karangan Adz-Dzahaby 10 / 307-310 )
Akhir kata
Saudaraku, apa yang penulis sampaikan di atas hanyalah sekedar tadzkirah, yang ana harapkan antum bisa mengambil faidahnya , sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
(إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلاً) (المزمل:19)
Artinya : Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Rabbnya. (QS. 73:19)
Barangsiapa merasa menyimpang dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala jauh atau dekat, kemudian jelas baginya jalan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut, maka hendaklah segera dia kembali, dan bergembiralah dengan kabar Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang-orang yang mau bertaubat dan mengikuti jalanNya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
)الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْماً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ) (غافر:7) (رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُم وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) (غافر : 8 ) (وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَن تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ) (غافر : 9 )
Artinya : (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, (QS. 40:7) ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. 40:8) dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. 40:9)
Inilah pahala dan balasan bagi orang yang mau bertaubat dan kembali kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala, adapun orang yang sombong maka cukuplah atasnya firman Allah subhanahu wa ta’ala :
(قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَى) (طـه:135)
Artinya : Katakanlah:”Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah membawa petunjuk”. (QS. 20:135)
Akhirnya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala telah mengumpulkan kita semua di kota RasulNya dan mengumpulkan kita dalam menuntut ilmu, semoga Allahsubhanahu wa ta’ala berkenan mengumpulkan kita semua di atas jalanNya yang lurus, dan mengumpulkan kita ke dalam surgaNya yang kekal. Amin.
و الله تعالى أعلم ، و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعي ، و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.


Komentar