Kajian Online


Dengarkan di player anda (winamp, wmp, dll), klik:
http://ngaji-online.sytes.net:8006/listen.pls

Pendengar

Tulis Pertanyaan

Jalan Keselamatan (3)

Jalan Keselamatan,

Kemana Aku Harus Mencari?

(bagian kedua dari trilogi)

Oleh: Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Mengetahui jalan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikutinya adalah kewajiban kita semua, karena 2 hal :

Pertama : Kita diperintah untuk mengikuti jalan Allah subhanahu wa ta’ala setelah kita tahu dan dilarang mengikuti jalan-jalan selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

(وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ)(الأنعام: من الآية153)

Artinya : dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS. 6:153)

Bagaimana kita bisa mengikuti sebuah jalan kalau kita tidak tahu jalan tersebut ? Oleh karena itu semakin orang mengetahui jalan ini maka akan semakin mudah dia berjalan menuju Allah subhanahu wa ta’ala dan semakin mudah pula menuju surga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya : Baransiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Abu Dawud 10 / 49 no : 3157, dan At-Tirmidzy 9 / 243 no : 2570, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)

Kedua : Kita -khususnya para da’I – diperintah untuk menyeru kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

(ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ) (النحل : 125

(Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 16:125)

Bagaimana kita bisa menyeru manusia kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala , kalau kita sendiri tidak tahu mana jalan Allah subhanahu wa ta’ala ? Kalau seorang da’I yang tidak tahu jalan Allah subhanahu wa ta’ala terjun ke medan dakwah, maka hasilnya dia akan sesat dan akan menyesatkan orang yan diajak, karena orang buta tidak mungkin menuntun orang yang buta juga. Maukah kita menjadi pemimpin yang menyesatkan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Artinya : Dan hanya saja yang aku takutkan atas umatku adalah imam-imam yang menyesatkan. (HR. Abu Dawud 11 / 322 no : 3710, dan At-Tirmidzy 8 / 172 no : 2155, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu).

Oleh karenanya orang yang mau menyeru kepada Allah subhanahu wa ta’ala harus mengilmui jalan ini, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

)قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ) (يوسف:108)
Artinya : Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. 12:108)
Saudaraku,

Ketahuilah bahwa rukun atau pondasi jalan ini ada tiga, ketiga rukun ini telah tercantum di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan semua rukun tersebut harus ada terpenuhi bagi orang yang ingin mendapatkan jalan yang lurus.

Pertama : Berpegang teguh dengan Al-Qur’an

Syarat pertama ini Allah subhanahu wa ta’ala isyaratkan di dalam beberapa ayat, diantaranya :
a. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

(قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَاباً أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ) (الاحقاف:30
Artinya : Mereka berkata:”Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS. 46:30)

b. Firman Allahsubhanahu wa ta’ala :
(يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ) (المائدة:16)
Artinya : Dengan kitab itulah Allah subhanahu wa ta’ala menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengankitab itu pula) Allah subhanahu wa ta’ala mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. 5:16)

c. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
(الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ) (ابراهيم:1)
Artinya : Alif, laam raa.(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. 14:1)

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menanggung setiap orang yang berpegang teguh dengannya dengan ketidaksesatan sebagaimana di dalam hadist :

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّهِ
Artinya : Dan aku telah tinggalkan diantara kalian apa-apa yang kalian tidak akan tersesat setelahnya selama kalian berpegang teguh dengannya, (yaitu) Kitabullah. (HR. Muslim 6 / 245 no : 2137, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

Karena ini pulalah sebagian sahabat menafsirkan Ash-Shirathal Mustaqim dengan Al-Qur’an, sebagaimana yang datang dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

عن عبد الله رضي الله عنه ، في قوله عز وجل (وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم ) قال : « كتاب الله »
Artinya : Dari Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu ‘anhu beliau berkata tentang makna firman Allah subhanahu wa ta’ala ((وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم : Kitabullah (HR.Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak 8 / 339 no : 3627)

Mungkin ini adalah hikmah atau rahasia kenapa setelah Al-Fatihah kita disunnahkan membaca ayat atau surat, yaitu setelah kita meminta petunjuk kepada jalan yang lurus maka kita hendaklah mencari petunjuk itu di dalam Al-Qur’an. Dan mungkin ini jugalah hikmah dari peletakkan Al-Fatihah sebagai surat yang pertama, yaitu karena surat-surat setelahnya adalah sumber mendapatkan jalan yang lurus. Wallahu ta’ala a’lam.

Kedua : Berpegang teguh dengan As-Sunnah

Rukun yang kedua ini Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam beberapa tempat di dalam Al-Qur’an, diantaranya :

a. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
(وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ) (المؤمنون:73)
Artinya : Dan sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. (QS. 23:73)

b. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
( وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ) (من سورة الشورى:52 )
Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. 42:52)

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi petunjuk dan bimbingan menuju jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Barangsiapa yang berpegang dengan sunnah beliau maka dia termasuk orang yang berjalan di atas jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dan berpegang teguh dengan As-Sunnah adalah pengamalan dari berpegang teguh terhadap Al-Qur’an, karena Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan :
(مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظاً) (النساء : 80 )
Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka. (QS. 4:80)

Ketiga : Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik umat (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in)

Rukun yang ketiga ini tidak kalah penting dengan 2 rukun yang pertama karena yang dimaksud dengan berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan hanya berpegang teguh dengan lafaznya akan tetapi harus berpegang teguh dengan lafadznya disertai pemahamannya secara bersamaan.
Oleh karena kita dapatkan di medan dakwah berbagai kelompok berdalil dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist untuk menguatkan pendapat dan pemikirannya, akan tetapi mereka memahami keduanya sesuai dengan pemahamannya tanpa kembali kepada pemahaman yang benar yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, generasi terbaik umat ini.
Untuk lebih memperjelas apa yang ana sebutkan di atas, perhatikanlah 2 contoh berikut ini :
1. Orang-orang yang mengaku sudah mencapai tingkat ma’rifah dan yakin, maka mereka tidak lagi dibebankan berbagai macam ibadah. Mereka berdalil dengan sebuah ayat yang berbunyi :
(وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ) (الحجر : 99)
Artinya : dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini. (QS. 15:99)

Jadi menurut pemahaman mereka orang yang sudah yakin dan percaya maka tidak perlu dia beribadah. Padahal makna yang benar dari kata yakin di dalam ayat tersebut adalah maut. Sebagaimana datang penafsirannya dari Salim bin Abdillah bin Umar, Al-Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan selainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4 / 553).

Penafsiran inilah yang sesuai dengan dalil yang lain, seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :
(قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ) (المدّثر : 43) (وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ) (المدّثر : 44 ((وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ) (المدّثر : 45) (وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ) (المدّثر : 46) (حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ) (المدّثر : 47)
Artinya : Mereka menjawab:”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (QS. 74:43) dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, (QS. 74:44) dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, (QS. 74:45) dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, (QS. 74:46) hingga datang kepada kami kematian”. (QS. 74:47)

Dan seperti sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah kematian ‘Utsman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu :
أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي
Artinya : Adapun dia (Utsman bin Madz’un) maka telah datang kepadanya Al-Yaqin (yaitu kematian), demi Allah sungguh aku mengharap baginya kebaikan, demi Allah aku tidak tahu – sedangkan aku adalah Rasulullah – apa yang dilakukan terhadapku. (HR. Al-Bukhary 4/ 464 no : 1166)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, meski demikian beliau tetap beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula para sahabat, tidak ada yang meninggalkan peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala padahal mereka termasuk orang-orang yang paling mengenal Allah subhanahu wa ta’ala.

2. Orang Ahmadiyah mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bukan nabi terakhir karena mereka memahami bahwa ayat yang berbunyi :
(مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً) (الأحزاب : 40 )
Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 33:40)

Maksud dari خَاتَمَ di dalam ayat di atas menurut mereka adalah cincin. Padahal makna yang benar dari kalimat tersebut adalah penutup, sebagaimana datang penjelasannya di dalam sebuah hadist :
وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
Artinya : Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku 30 pendusta, semuanya menyangka bahwa dirinya nabi, sedangkan aku adalah khatam (penutup) para nabi, tidak ada nabi setelahku. (HR. Abu Dawud 11 / 322 no : 3710, dan At-Tirmidzy 8 / 156 no : 2145, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)

Saudaraku,

Apakah setelah ini kita akan mengatakan bahwa orang yang meninggalkan ibadah karena sudah mencapai keyakinan atau orang yang mengatakan Nabi Muhammadshallallahu alaihi wasallam bukan nabi terakhir sebagai orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an hanya karena berdalil dengan ayat ?

Dua contoh penyimpangan di atas adalah bukti pentingnya memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, dan tidak cukup seseorang berpegang dengan lafadz Al-Qur’an dan Al-Hadist saja tanpa merujuk kepada pemahaman yang benar. Dan ini menjadi penguat bahwa memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang salah adalah penyebab kesesatan dari jalan yang lurus.

Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang paling memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena beberapa hal :
1. Mereka adalah orang arab yang mengetahui makna dan maksud dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang keduanya turun dengan bahasa arab.
2. Mereka melihat langsung sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur’an dan melihat langsung bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengamalkannya.
3. Pemahaman dan amalan mereka dilihat dan diperiksa langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sehingga kalau mereka salah dalam memahami atau salah dalam mengamalkan maka langsung mendapat teguran.

Penulis bawakan disini sebagian dari ucapan salaf yang menunjukkan keutamaan ilmu dan pemahaman sahabat :
1. Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :
وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ سُورَةٌ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ حَيْثُ نَزَلَتْ وَمَا مِنْ آيَةٍ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ فِيمَا أُنْزِلَتْ وَلَوْ أَعْلَمُ أَحَدًا هُوَ أَعْلَمُ بِكِتَابِ اللَّهِ مِنِّي تَبْلُغُهُ الْإِبِلُ لَرَكِبْتُ إِلَيْهِ ).
Artinya : Dan demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, tidaklah ada sebuah surat di dalam Kitabullah kecuali aku tahu kapan turun, dan tidaklah sebuah ayat kecuali aku tahu dalam masalah apa dia turun. Seandainya aku tahu ada orang yang lebih tahu dari pada aku tentang Kitabullah, (dia) berada tempat yang bisa dijangkau, niscaya aku akan mendatanginya. (HR. Al-Bukhary 15/ 405 no : 4618, Dan Muslim 12/ 230 no : 4503)

2. Berkata Abdurrahman bin As-Sulamy :
حدثنا من كان يقرئنا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم أنهم كانوا يقترئون من رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر آيات ولا يأخذون في العشر الأخرى حتى يعلموا ما في هذه من العمل والعلم فإنا علمنا العمل والعلم
Artinya : Telah mengabarkan kepada kami orang-orang yang mengajarkan kami Al-Qur’an diantara para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwasanya mereka dahulu mengambil dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sepuluh ayat dan tidak mereka mengambil sepuluh ayat yang lain sampai mengetahui apa yang terkandung di dalamnya yang berupa amalan dan ilmu, maka kami mengetahui amalan dan ilmunya. (HR. Ibnu Abi Syaibah di Al-Mushannaf 6 / 117 no : 29929)

3. Doa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma :
(اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل)
Artinya : Ya Allah, pahamkanlah dia di dalam agama dan ajarilah dia tafsir (Al-Qur’an) (HR. Ahmad 1 /266, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany di dalam Shahihah 6 / 90 no : 2589).

Demikianlah ketinggian ilmu para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan kedalaman pemahaman mereka.

Kemudian berguru kepada mereka para tabi’in, generasi terbaik setelah para sahabat, menuntut ilmu dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beserta pengamalannya. Pemahaman merekapun diambil dari pemahaman para sahabat. Dengarkanlah pengakuan salah seorang murid senior Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid bin Jabr ketika berkata :
(عرضت المصحف على ابن عباس رضي الله عنهما من فاتحته إلى خاتمته ، أقف عند كل آية و أسأله عنها)
Artinya : Aku membaca mushaf dihadapan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Al-Fatihah sampai akhir, aku berhenti di setiap ayat kemudian aku bertanya tentangnya. (HR. Ibnu Abi Syaibah 6 / 154 no : 30287)

Inilah sebagian ucapan para sahabat dan tabi’in yang menunjukkan kedalaman ilmu mereka, oleh karena itu tidak heran kalau Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya memuji mereka dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

)وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً) (النساء : 115 (
Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115)

Para ulama mengatakan bahwa orang yang menyandang gelar keimanan saat ayat ini turun adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Barangsiapa menyelisihi jalan mereka maka terancam dengan kesesatan dan neraka.

Namun sebaliknya barangsiapa mengikuti jalan mereka dengan baik maka akan mendapatkan surga kekal di dalamnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

(وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ) (التوبة : 100)
Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. 9:100)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga banyak memberikan tazkiyah kepada para sahabatnya dan 2 generasi setelah mereka , dengan sabda beliau :

(خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجيء أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته)
Artinya : Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di abadku, kemudian orang-orang yang datang setelahnya (para tabi’in), kemudian orang-orang yang datang setelahnya, kemudian datang sebuah kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya. (HR. Al-Bukhary 11/ 482 no : 3378, dan Muslim 12 / 358 no : 4601)

Tentunya al-khairiyyah (keterbaikan) disini adalah keterbaikan dalam ad-din (agama) yang menyangkut ilmu dan amal, dan bukan keterbaikan di dalam hal dunia.

Saudaraku,

Dari uraian di atas kita mengetahui bagaimana keutamaan para sahabat dan pentingnya memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat . Dan inilah jalan keselamatan menuju Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya di dalam sebagian riwayat hadist perpecahan umat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang siapa kelompok yang selamat ? Maka beliau bersabda :

ما أنا عليه وأصحابي
Artinya : Apa-apa yang yang aku dan para sahabatku berada di atasnya. ( HR. At-Tirmidzy 9 / 235 no : 2565, dan dihasankan oleh Syeikh Al-Albany)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu :

وقد ضُمِنتْ لهم العِصْمةُ، عند اتفاقهم، من الخطأ، كما وردت بذلك الأحاديث المتعددة أيضًا، وخِيفَ عليهم الافتراق، والاختلاف، وقد وقع ذلك في هذه الأمة فافترقوا على ثلاث وسبعين فرقة، منها فرقة (1) ناجية إلى الجنة ومُسَلمة من عذاب النار، وهم الذين على ما كان عليه رسولُ الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه.

Artinya : Dan sungguh mereka telah ditanggung dengan keselamatan dari kesalahan ketika mereka bersepakat, sebagaimana telah datang beberapa hadist yang menunjukkan hal tersebut, dan ditakutkan terjadinya perpecahan dan perbedaan diantara mereka, dan sungguh telah terjadi hal tersebut di dalam umat ini, maka mereka berpecah menjadi 73 golongan, diantaranya adalah golongan yang selamat menuju surga dan selamat dari adzab neraka, dan merekalah orang-orang yang berada di atas jalannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. (Tafsir Ibnu Katsir 2 / 90)

Oleh karena itu datang anjuran-anjuran untuk berpegang dengan sunnah para sahabat, sebagaimana ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :
(من كان منكم مستنا فليستن بمن قد مات فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة ، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم ، كانوا أفضل هذه الأمة أبرها قلوبا و أعمقها علما و أقلها تكلفا ، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه و إقامة دينه ، فاعرفوا لهم فضلهم و اتبعوهم في آثارهم و تمسكوا بما استطعتم من أخلاقهم و دينهم فإنهم كانوا على الهدى المستقيم)
Artinya : Barangsiapa diantara kalian yang ingin meniru maka hendaklah dia meniru orang-orang yang sudah meninggal karena yang masih hidup tidak aman dari fitnah, merekalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah sebaik-baik umat ini, paling mulia hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit dalam takalluf (membebani diri), sebuah kaum yang telah Allah pilih untuk menemani nabiNya dan menegakkan agamaNya, maka ketahuilah keutamaan mereka, dan ikutilah jejak mereka, dan berpeganglah dengan akhlaq dan agama mereka semampunya, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus. (HR. Al-Baghawy di dalam Syarhussunnah 1 / 214).

Dan ucapan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz tentang para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum :

(فَارْضَ لِنَفْسِكَ مَا رَضِيَ بِهِ الْقَوْمُ لِأَنْفُسِهِمْ فَإِنَّهُمْ عَلَى عِلْمٍ وَقَفُوا وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا وَهُمْ عَلَى كَشْفِ الْأُمُورِ كَانُوا أَقْوَى وَبِفَضْلِ مَا كَانُوا فِيهِ أَوْلَى فَإِنْ كَانَ الْهُدَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ لَقَدْ سَبَقْتُمُوهُمْ إِلَيْهِ وَلَئِنْ قُلْتُمْ إِنَّمَا حَدَثَ بَعْدَهُمْ مَا أَحْدَثَهُ إِلَّا مَنْ اتَّبَعَ غَيْرَ سَبِيلِهِمْ وَرَغِبَ بِنَفْسِهِ عَنْهُمْ فَإِنَّهُمْ هُمْ السَّابِقُونَ فَقَدْ تَكَلَّمُوا فِيهِ بِمَا يَكْفِي وَوَصَفُوا مِنْهُ مَا يَشْفِي فَمَا دُونَهُمْ مِنْ مَقْصَرٍ وَمَا فَوْقَهُمْ مِنْ مَحْسَرٍ وَقَدْ قَصَّرَ قَوْمٌ دُونَهُمْ فَجَفَوْا وَطَمَحَ عَنْهُمْ أَقْوَامٌ فَغَلَوْا وَإِنَّهُمْ بَيْنَ ذَلِكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ )

Artinya : Maka hendaklah engkau ridha dengan apa yang diridhai kaum tersebut (para sahabat), karena sesungguhnya mereka berhenti di atas ilmu dan menahan dengan penglihatan yang tajam, padahal mereka lebih kuat dan lebih berhak di dalam membongkar berbagai masalah. Seandainya petunjuk itu ada pada kalian, maka berarti kalian telah mendahului mereka (para sahabat). Dan kalau kalian berkata : ” Ini terjadi setelah masa mereka (para sahabat) “, maka tidaklah mengada-ada hal tersebut kecuali orang yang tidak mengikuti jalan mereka dan membenci mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mendahului kita. Sungguh mereka telah berbicara dengan sesuatu yang mencukupi kita, dan telah menyifati dengan sesuatu yang mengobati segala permasalahan. Tidak ada setelah mereka orang yang lebih kuat menahan, dan tidak ada di atas mereka orang yang lebih kuat membuka. Sungguh telah merendah sebuah kaum dari mereka, akhirnya mereka tergelincir, dan sungguh telah meninggi sebuah kaum atas mereka (para sahabat) akhirnya mereka ghuluw (berlebihan), dan mereka (para sahabat) yang berada diantara keduanya sungguh-sungguh berada di atas petunjuk yang lurus. ( HR. Abu Dawud 12 / 217 no : 3996, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany).

Comments are closed.