Kajian Online


Dengarkan di player anda (winamp, wmp, dll), klik:
http://ngaji-online.sytes.net:8006/listen.pls

Pendengar

Tulis Pertanyaan

Sunnah-Sunnah yang Ditinggalkan di Bulan Ramadhan (Bagian 1)

Berikut kami sampaikan Artikel yang di ambil dari “Sunnah-Sunnah yang Ditinggalkan di Bulan Ramadhan” oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan: Dapatkah Syaikh memberikan nasihat kepada kami pada kesempatan ini dalam memasuki Ramadhan yang diberkahi?

Jawaban:

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah [2] : 183)

Di dalam ayat ini, yang tidak tersembunyi dari orang-orang yang hadir, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada ummat Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, melalui ayat ini, bahwa Dia telah mewajibkan puasa atas mereka sebagaimana Dia telah mewajibkan puasa atas ummat sebelum kita. Ini adalah sebuah perkara yang diketahui oleh seluruh Muslim yang membaca ayat ini, dan memahami dengan jelas maknanya. Namun apa yang hendak saya ketengahkan adalah sesuatu yang lain, sebuah perkara yang hanya sedikit dipahami oleh kebanyakan orang – dan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhir ayat ini: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “agar kamu bertakwa”.

Allah Azza wa Jalla, ketika Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman atau mewajibkan mereka atas beberapa syariat, biasanya hanya menyebutkan perintah tanpa menjelaskan hikmah dibaliknya. Hal ini karena hikmah di balik penetapan kewajiban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya adalah Dia mencoba mereka dengannya, sehingga jelas orang-orang yang taat kepada-Nya dan orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

Namun demikian, di dalam ayat ini, Allah menyebutkan sesuatu yang tidak sering ditemukan dalam Al-Qur’anul Karim, yang mana Dia menyebutkan alasan atas perintah berpuasa dengan firman-Nya: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “agar kamu bertakwa”.

Maka hikmah dibalik puasa orang-orang Mukmin tidak hanya mereka menahan diri dari kesenangan-kesenangan dan hal-hal yang diperbolehkan, meskipun hal ini merupakan kewajiban bagi orang yang berpuasa – namun ini bukanlah satu-satunya yang diwajibkan dan dimaksudkan dari berpuasa. Allah Azza wa Jalla, mengakhiri perintah-Nya berpuasa dengan berfirman: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “agar kamu bertakwa”.

Berarti bahwa hikmah dibalik kewajiban berpuasa adalah seorang Muslim harus meningkatkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , di bulan Puasa, dan menjadi lebih taat dibanding sebelumnya.

Dan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam menyatakan dengan jelas dan men-jelaskan dengan sempurna hikmah ketetapan ini, dengan sabda beliau Shalallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang di-riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari (no. 1903), dimana beliau Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bertindak atas kedustaan itu, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makanan dan minumannya.”

Artinya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menginginkan dengan kewajiban berpuasa ini – untuk menahan (diri) pada waktu-waktu yang telah ditentukan sebagaimana yang anda ketahui – bahwa mereka hanya menahan diri dari makan dan minum. Sebaliknya mereka harus menahan diri dari apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang berupa dosa-dosa dan kemaksiatan terhadap-Nya, dan dari perkataan dan perbuatan dusta.

Dengan demikian Nabi Shalallahu alaihi wa sallam menekankan ayat ini: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “agar kamu bertakwa”. Yakni bahwa engkau harus – sebagai amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , selain daripada menahan diri dari makan dan minum – juga menahan diri pada hal-hal yang diharamkan, seperti ghibah, namimah, bersaksi palsu, ber-bohong, dan sebagainya, yang berkenaan dengan hal-hal yang dilarang yang telah kita ketahui bersama.

Oleh karena itu adalah kewajiban bahwa seluruh Muslim harus menyadari perbuatan-perbuatan yang merusak puasa, dan tidak hanya perbuatan fisik, yang diketahui secara umum, yakni makan, minum dan jima’. Puasa tidak hanya berarti menahan diri dari hal-hal ini. Oleh sebab itu para ulama membedakan dan membagi hal-hal yang merusak puasa ke dalam dua kategori, dan inilah yang saya maksudkan dalam pembicaraanku pada waktu yang diberkahi ini, insya Allah.

Hal ini khususnya penting karena orang-orang yang menyampaikan Khutbah dan memperingatkan manusia selama bulan Ramadhan, ketika mereka berbicara tentang hal-hal yang merusak puasa, mereka hanya berbicara mengenai hal-hal yang bersifat materi, hal-hal yang baru saja kita sebutkan – makan, minum dan jima’. Namun apa yang harus mereka lakukan, sebagai penasihat yang ikhlas dan orang-orang yang memberikan peringatan kepada manusia secara umum, untuk lebih berkonsentrasi kepada kategori kedua yang merusak puasa. Hal ini karena manusia menjadi terbiasa berpikir bahwa puasa hanyalah menahan diri dari kategori pertama, menahan diri dari hal-hal yang bersifat jasmaniah. Namun ada kategori lainnya yang merusak puasa, yang disebut hal-hal yang non jasmaniah yang dapat merusak puasa.

Anda baru saja mendengar sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bertindak atas kedustaan itu, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makanan dan minumannya .”

Oleh karena itu setiap orang yang berpuasa harus memeriksa dirinya dan melihat, apakah dia hanya menahan diri dari hal-hal yang bersifat materi ataukah dia menahan diri dari hal-hal yang bersifat non materi? Artinya, dia menjadikan akhlaknya dan perbuatannya baik ketika datang-nya bulan Ramadhan yang diberkahi? Jika demikian halnya, maka dia telah memenuhi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhir ayat: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “agar kamu bertakwa”.

Namun bagi orang yang membatasi diri dalam berpuasa hanya menahan diri dari makan dan minum, namun terus dan tetap melakukan perbuatan buruk yang dilakukannya sebelumnya, sebelum bulan Ramadhan, maka ini bukanlah puasa yang diinginkan dan diwajibkan dari hikmah di balik ketetapan syariat di bulan yang mulia ini, dimana Rabb kita Azza wa Jalla mengisyaratkan dengan firman-Nya: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “agar kamu bertakwa”.

Oleh karena itu kami menasihatkan dan mengingatkan saudara-saudara kami Muslim bahwa mereka harus mengingat kategori yang lain ini, hal-hal yang non material, yang merusak puasa, dan merupakan sesuatu yang oleh para pen-ceramah dan orang-orang yang mengarahkan manusia kepada jalan yang benar jarang dibicara-kan, belum lagi masyarakat umum yang tidak menyadari kategori ini hal-hal yang dapat merusak puasa, yakni hal-hal yang bersifat non materi.

Inilah yang ingin saya ingatkan kepada saudara-saudara kami yang hadir dalam majelis ini, insya Allah, sehingga dapat menjadi penyebab bagi mereka untuk meningkatkan amal ibadah, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , di bulan yang diberkahi ini, bulan puasa, yang mana kami berharap Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memerikan kita taufiq untuk memenuhi hak dari bulan yang diberkahi ini, yakni kita menahan diri dari hal-hal yang bersifat jasmani dan rohani yang dapat merusak puasa.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>